innatonoyan – Ada alasan mengapa atap bangunan tradisional Tiongkok tidak pernah terasa benar-benar kosong.
Lihat bagian ujungnya.
Di tempat yang paling tinggi, paling curam, dan paling sulit dijangkau manusia, sering berdiri makhluk-makhluk kecil dengan tubuh binatang dan wajah yang terlihat seperti berasal dari dunia lain.
Mereka menghadap langit.
Di bawahnya ada istana, kuil, aula atau bangunan penting.
Di atasnya hanya awan.
Selama ratusan tahun, figur-figur tersebut berkembang menjadi bagian penting dalam arsitektur Tiongkok. Sebagian berfungsi sebagai simbol status, sebagian membawa makna perlindungan, dan sebagian lagi berkembang bersama legenda mengenai naga.
Dari tradisi itulah muncul nama Chaofeng, ditulis 嘲風 atau 嘲风 dan dibaca Cháofēng.
Dalam salah satu versi paling terkenal mengenai Sembilan Anak Naga, Chaofeng merupakan anak ketiga.
Namun sifatnya berbeda dari Suanni yang senang duduk tenang.
Chaofeng justru menyukai sesuatu yang mungkin dihindari sebagian besar makhluk.
Bahaya.
Ia menyukai tempat tinggi.
Ia tertarik pada jurang dan lokasi berbahaya.
Karena itulah legenda kemudian menempatkannya di tempat yang terasa sangat sesuai dengan karakternya: ujung atap bangunan.
Tetapi seperti banyak kisah Sembilan Anak Naga, hubungan antara Chaofeng dan arsitektur ternyata jauh lebih rumit daripada cerita populer yang beredar sekarang.
Siapa Chaofeng dalam Mitologi China?
Chaofeng adalah salah satu makhluk yang muncul dalam tradisi Long Sheng Jiu Zi (龍生九子) atau “Naga Melahirkan Sembilan Anak”.
Legenda tersebut mengatakan bahwa naga mempunyai sembilan anak yang tidak tumbuh menjadi naga seperti induknya.
Masing-masing mempunyai bentuk dan kesukaan sendiri.
Ada Qiu Niu yang menyukai musik.
Yazi menyukai pertempuran.
Pulao terkenal dengan suaranya.
Suanni menyukai duduk.
Sementara Chaofeng menyukai tempat berbahaya.
Salah satu sumber penting mengenai karakter Chaofeng berasal dari cendekiawan Dinasti Ming Li Dongyang (李東陽).
Dalam kumpulan tulisannya Huailutang Ji (懷麓堂集) terdapat bagian terkenal berjudul Ji Long Sheng Jiu Zi atau “Catatan tentang Naga Melahirkan Sembilan Anak”.
Li menempatkan Chaofeng sebagai anak ketiga.
Deskripsinya sangat pendek, tetapi justru menjadi dasar karakter Chaofeng selama berabad-abad.
Dalam teks tersebut, Chaofeng dikatakan mempunyai sifat “ping sheng hao xian” (平生好險).
Secara sederhana dapat dipahami sebagai:
sepanjang hidupnya ia menyukai bahaya atau tempat berbahaya.
Kemudian Li menghubungkan sifat tersebut dengan makhluk yang berada di sudut bangunan istana.
Dari sinilah Chaofeng memperoleh tempatnya di atas atap.
Chaofeng Disebut Anak Ketiga Naga
Kalau mengikuti versi Li Dongyang, urutan awal Sembilan Anak Naga adalah Qiu Niu, Yazi, kemudian Chaofeng.
Dengan demikian Chaofeng sering disebut sebagai anak ketiga naga.
Namun seperti yang terjadi pada Suanni, urutan tersebut tidak boleh dianggap sebagai silsilah tunggal yang mutlak.
Tradisi Sembilan Anak Naga mempunyai beberapa versi.
Cendekiawan Dinasti Ming lainnya seperti Yang Shen mencatat susunan berbeda. Beberapa nama yang muncul dalam satu versi bahkan tidak ditemukan pada versi lainnya.
Karena itu, pernyataan paling aman adalah:
Chaofeng merupakan anak ketiga dalam daftar yang dicatat Li Dongyang.
Perbedaan tersebut penting karena legenda anak naga berkembang melalui tradisi yang panjang.
Ini bukan silsilah biologis seperti keluarga manusia.
Sembilan Anak Naga lebih mirip sebuah sistem legenda yang digunakan untuk memberikan identitas dan cerita kepada makhluk-makhluk dekoratif dalam kebudayaan Tiongkok.
Chaofeng Tidak Takut Ketinggian
Sifat utama Chaofeng adalah ketertarikannya terhadap bahaya.
Itulah bagian yang membuat makhluk ini berbeda.
Jika Suanni menemukan tempatnya sambil duduk tenang di dekat Buddha dan asap dupa, Chaofeng justru mencari tempat yang membuat orang biasa berpikir dua kali untuk berdiri di sana.
Ujung atap.
Sudut bangunan.
Tempat tinggi yang langsung berhadapan dengan angin.
Dalam arsitektur tradisional Tiongkok, ujung atap melengkung ke atas sehingga menciptakan siluet yang sangat khas.
Pada bangunan monumental, bagian tersebut dapat berada puluhan meter dari tanah.
Di situlah figur makhluk mitologis muncul.
Hubungan visualnya sempurna.
Seekor anak naga yang menyukai bahaya tentu tidak akan bersembunyi di lantai.
Ia ingin berada di atas.
Mengapa Chaofeng Diletakkan di Atap?
Dalam tradisi yang dicatat Li Dongyang, figur Chaofeng dikaitkan dengan sudut bangunan istana.
Namun dalam perkembangan budaya populer, fungsinya kemudian memperoleh penjelasan yang jauh lebih luas.
Chaofeng sering digambarkan sebagai penjaga.
Posisinya di tempat tinggi dianggap dapat mengawasi lingkungan di bawahnya.
Beberapa tradisi populer juga menghubungkannya dengan kemampuan menangkal kejahatan atau membawa keberuntungan.
Tetapi ada perbedaan antara sumber klasik dan interpretasi kemudian.
Teks Li Dongyang tidak memberikan daftar kekuatan supernatural Chaofeng.
Ia tidak mengatakan Chaofeng dapat menembakkan petir.
Tidak ada penjelasan bahwa ia mengendalikan angin.
Tidak pula terdapat statistik mengenai kemampuan bertarungnya.
Yang diberikan teks tersebut jauh lebih sederhana.
Chaofeng menyukai bahaya.
Karena itu citranya berada di tempat berbahaya pada bangunan.
Interpretasi mengenai perlindungan dan pengusiran roh jahat berkembang kemudian bersama fungsi simbolis dekorasi arsitektur Tiongkok.
Jangan Salah, Tidak Semua Makhluk di Atap Adalah Chaofeng
Di sinilah pembahasan Chaofeng sering menjadi terlalu sederhana.
Banyak artikel internet memperlihatkan deretan patung binatang kecil di atas atap Forbidden City lalu mengatakan:
“Itulah Chaofeng.”
Padahal kenyataannya lebih rumit.
Arsitektur kekaisaran Tiongkok mengenal tradisi wenshou (吻獸), jishou (脊獸) dan berbagai jenis ornamen hewan pada bubungan serta sudut atap.
Salah satu kelompok yang paling terkenal adalah deretan zoushou (走獸) atau makhluk/hewan yang ditempatkan di sepanjang bubungan miring atap.
Jumlahnya dapat menunjukkan tingkat pentingnya bangunan.
Pada bangunan kekaisaran dengan status sangat tinggi, jumlah figur dapat lebih banyak dibandingkan bangunan dengan tingkat lebih rendah.
Makhluk-makhluk tersebut mempunyai identitas dan tradisinya sendiri.
Jadi mengatakan bahwa seluruh figur di atap merupakan Chaofeng tidak akurat.
Hubungan Chaofeng dengan atap berasal dari legenda Sembilan Anak Naga dan penjelasan Li Dongyang mengenai figur pada sudut bangunan.
Sementara sistem ornamen atap kekaisaran jauh lebih kompleks.
Forbidden City Membuat Dunia Atap China Terlihat Seperti Kebun Binatang Mitologi
Tidak ada tempat yang lebih mudah untuk melihat kemegahan tradisi ornamen atap dibandingkan kompleks Forbidden City di Beijing.
Istana kekaisaran tersebut dipenuhi atap berlapis genteng kuning.
Pada garis bubungan terdapat berbagai figur.
Dari kejauhan ukurannya terlihat kecil.
Namun posisi mereka sangat disengaja.
Dalam arsitektur kekaisaran, jumlah dan jenis ornamen pada atap tidak hanya menjadi dekorasi.
Mereka juga berkaitan dengan hierarki bangunan.
Semakin penting bangunan, semakin kompleks dekorasinya.
Contoh ekstremnya dapat ditemukan pada Hall of Supreme Harmony atau Taihedian (太和殿).
Bangunan tersebut merupakan salah satu aula terpenting di Forbidden City dan memiliki susunan figur atap yang luar biasa.
Hal ini memperlihatkan bagaimana makhluk mitologis akhirnya menjadi bagian dari bahasa arsitektur.
Bangunan tidak perlu memasang papan bertuliskan “saya sangat penting”.
Atapnya sudah berbicara.
Dari Fungsi Bangunan Menjadi Legenda Naga
Hal menarik dari Chaofeng adalah bagaimana cerita dapat muncul untuk menjelaskan bentuk yang sudah dikenal masyarakat.
Orang melihat makhluk di atap.
Kemudian muncul pertanyaan:
Mengapa makhluk itu berada di sana?
Legenda memberikan jawaban yang mudah diingat.
Karena ia adalah anak naga yang menyukai bahaya.
Penjelasan tersebut jauh lebih hidup daripada sekadar mengatakan sebuah ornamen dipasang pada struktur arsitektur tertentu.
Chaofeng memberikan kepribadian kepada benda mati.
Atap bukan lagi sekadar kayu dan genteng.
Ada makhluk yang tinggal di sana.
Dan ia memilih tempat tersebut karena memang menyukai ketinggian.
Apakah Chaofeng Berbentuk Naga?
Ini juga tidak mempunyai jawaban sesederhana yang dibayangkan.
Sebagai salah satu anak naga, Chaofeng tentu sering mendapatkan karakteristik naga dalam representasi modern.
Namun prinsip dasar legenda Sembilan Anak Naga justru mengatakan bahwa anak-anak tersebut tidak menjadi naga sepenuhnya.
Bentuk mereka merupakan campuran berbagai makhluk.
Representasi Chaofeng dapat memperlihatkan wajah seperti naga, tubuh binatang berkaki empat, sisik, tanduk atau karakteristik makhluk fantastis lainnya.
Tidak ada satu desain anatomi yang harus selalu digunakan.
Hal tersebut sangat berbeda dengan monster modern yang biasanya mempunyai desain resmi.
Mitologi berkembang melalui seni.
Setiap zaman dan pengrajin dapat memberikan interpretasi berbeda.
Karena itu Chaofeng dari satu kuil belum tentu identik dengan figur yang disebut Chaofeng pada bangunan lain.
Nama Chaofeng Sendiri Terdengar Unik
Nama 嘲風 secara literal cukup menarik.
Karakter 風 (feng) berarti angin.
Sementara 嘲 (chao) dapat berhubungan dengan mengejek atau mencemooh.
Jika diterjemahkan secara sangat literal, namanya bisa menimbulkan kesan seperti “mengejek angin”.
Tetapi etimologi nama makhluk mitologis tidak selalu dapat diterjemahkan mentah-mentah lalu dianggap sebagai penjelasan karakter.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana sumber klasik menggambarkan sifatnya.
Dan dalam catatan Li Dongyang, sifat itu jelas.
Chaofeng menyukai bahaya.
Posisinya di tempat tinggi juga membuat unsur “angin” pada namanya terasa sangat cocok secara puitis.
Di atas atap, ia benar-benar berhadapan dengan angin setiap hari.
Chaofeng Berbeda Jauh dengan Suanni
Jika Suanni dan Chaofeng diletakkan berdampingan, kita mendapatkan gambaran betapa anehnya keluarga naga tersebut.
Suanni menyerupai singa.
Ia menyukai duduk.
Ia diasosiasikan dengan singgasana Buddha dan dalam tradisi lain berkembang dekat dengan tungku dupa serta asap.
Chaofeng sebaliknya.
Ia berada di luar.
Di tempat terbuka.
Di atas bangunan.
Angin menerpanya.
Posisinya berbahaya.
Satu anak naga identik dengan ketenangan.
Yang lain identik dengan ketinggian dan risiko.
Inilah salah satu daya tarik legenda Sembilan Anak Naga.
Mereka tidak sekadar sembilan naga dengan warna berbeda.
Masing-masing dibuat mempunyai kepribadian.
Apakah Chaofeng Bisa Terbang?
Representasi modern kadang menggambarkan Chaofeng sebagai makhluk yang mampu terbang atau mempunyai kekuatan berkaitan dengan angin.
Secara visual, gagasan tersebut memang menggoda.
Namanya mempunyai karakter “angin”.
Ia tinggal di atap.
Ia anak naga.
Maka mudah membuat lompatan bahwa Chaofeng adalah naga pengendali angin.
Masalahnya, sumber klasik yang menjadi dasar legenda tidak memberikan kemampuan tersebut.
Catatan Li Dongyang hanya menekankan kecintaannya pada tempat berbahaya dan hubungan dengan sudut bangunan.
Jadi jika sebuah gim atau novel membuat Chaofeng dapat mengendalikan badai, itu merupakan interpretasi kreatif modern.
Tidak ada masalah dengan itu sebagai karya fantasi.
Tetapi berbeda dengan mengatakan bahwa kemampuan tersebut merupakan bagian pasti dari mitologi klasik.
Apakah Chaofeng Penjaga dari Roh Jahat?
Hubungan ini juga perlu diberi konteks.
Ornamen makhluk fantastis pada arsitektur Tiongkok memang sering mempunyai fungsi simbolis protektif.
Naga, singa dan berbagai makhluk mitologi dapat berhubungan dengan keberuntungan, kekuasaan serta perlindungan dari pengaruh buruk.
Chaofeng kemudian ikut memperoleh reputasi sebagai makhluk yang dapat mengusir atau menakuti kekuatan jahat.
Namun sumber Ming yang menjelaskan Sembilan Anak Naga tidak memberikan narasi panjang mengenai Chaofeng berburu hantu.
Sifat protektifnya lebih mudah dipahami melalui konteks arsitektur.
Makhluk ganas ditempatkan pada batas bangunan.
Ia berada di posisi tinggi.
Secara simbolis, figur tersebut menjadi penjaga ruang di bawahnya.
Dari sana makna perlindungan berkembang secara alami.
Kenapa Naga Mempunyai Sembilan Anak?
Angka sembilan sendiri mempunyai posisi istimewa dalam kebudayaan Tiongkok.
Dalam tradisi lama, sembilan sering dikaitkan dengan angka tertinggi dalam satu digit, kekuasaan, keberuntungan dan simbolisme kekaisaran.
Naga juga mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan kaisar.
Karena itu konsep “sembilan anak naga” terasa selaras dengan bahasa simbolik kebudayaan Tiongkok.
Namun “sembilan” tidak selalu harus dibaca seperti laporan sensus keluarga naga.
Dalam bahasa dan sastra Tiongkok lama, angka tertentu dapat membawa makna simbolis mengenai banyaknya sesuatu.
Hal ini membantu menjelaskan mengapa daftar Sembilan Anak Naga bisa berbeda.
Tujuan utamanya bukan menyusun database zoologi makhluk mitologi.
Legenda tersebut menghubungkan naga dengan berbagai simbol yang sudah hidup dalam masyarakat.
Chaofeng Adalah Contoh Mitologi yang Menempel pada Arsitektur
Sebagian makhluk mitologi hidup di dalam cerita.
Chaofeng hidup di atas bangunan.
Itulah yang membuatnya menarik.
Orang tidak harus membuka kitab legenda untuk bertemu dengan gagasan tentang anak naga.
Mereka cukup melihat ke atas.
Arsitektur membuat mitologi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Seseorang berjalan menuju kuil.
Ia melihat makhluk di sudut atap.
Anak kecil bertanya kepada orang tuanya apa makhluk tersebut.
Kemudian cerita dimulai.
“Itu anak naga.”
“Kenapa dia di atas?”
“Karena dia menyukai tempat berbahaya.”
Hanya dalam beberapa kalimat, sebuah ornamen arsitektur mendapatkan nama, sifat dan keluarga.
Cerita semacam itulah yang mampu bertahan selama berabad-abad.
Chaofeng dalam Budaya Populer Modern
Seperti Suanni, Chaofeng kemudian keluar dari dunia arsitektur dan memasuki budaya populer.
Nama Sembilan Anak Naga muncul dalam novel fantasi, manhua, gim, karya seni digital dan berbagai cerita yang menggunakan mitologi Tiongkok sebagai inspirasi.
Karakter Chaofeng biasanya mempertahankan beberapa unsur dasarnya.
Naga.
Ketinggian.
Bahaya.
Angin.
Kemudian penulis modern menambahkan kemampuan baru.
Ada yang menjadikannya makhluk terbang.
Ada yang menghubungkannya dengan badai.
Ada pula yang membuatnya menjadi petarung atau penjaga langit.
Interpretasi semacam itu merupakan perkembangan normal mitologi.
Cerita lama tidak pernah benar-benar berhenti berubah.
Namun menariknya, karakter inti Chaofeng tetap cocok bahkan setelah ratusan tahun.
Ia adalah makhluk yang tidak takut berada di tempat yang membuat makhluk lain mundur.
Jangan Mencari Chaofeng seperti Mencari Hewan Nyata
Ada kecenderungan modern untuk mencoba membuat mitologi terlalu sistematis.
Orang ingin tahu tinggi Chaofeng.
Berapa beratnya.
Apa makanannya.
Apakah bisa terbang.
Apa elemennya.
Siapa musuhnya.
Berapa tingkat kekuatannya dibandingkan Suanni.
Masalahnya, sumber tradisional tidak bekerja seperti ensiklopedia Pokémon.
Chaofeng adalah simbol dan karakter legenda.
Detailnya lahir dari hubungan antara cerita dan arsitektur.
Karena itu pertanyaan paling menarik bukan “seberapa kuat Chaofeng?”
Pertanyaan yang lebih menarik adalah:
Mengapa masyarakat memilih makhluk ini untuk menjelaskan sesuatu yang berada di atap?
Jawabannya membawa kita kembali pada satu kata.
Bahaya.
Tempat yang Ditakuti Manusia Justru Menjadi Rumah Chaofeng
Di antara Sembilan Anak Naga, Chaofeng mempunyai salah satu karakter paling mudah dipahami.
Ia tidak perlu cerita perang besar.
Tidak membutuhkan legenda tentang menghancurkan kerajaan.
Tidak harus mempunyai kemampuan mengendalikan langit.
Sifatnya sudah cukup untuk menciptakan identitas.
Ia menyukai tempat berbahaya.
Karena itu ia ditempatkan di atas bangunan.
Dari bawah, manusia melihatnya sebagai figur kecil yang berdiri di antara genteng dan langit.
Semakin tinggi bangunannya, semakin cocok tempat tersebut untuknya.
Angin bukan alasan untuk turun.
Ketinggian bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Justru di sanalah Chaofeng seharusnya berada.
Dan mungkin itulah alasan legenda ini begitu mudah bertahan.
Ketika melihat Suanni, kita harus memahami hubungan singa, Buddhisme dan asap dupa untuk menangkap ceritanya.
Tetapi ketika melihat Chaofeng berdiri di ujung atap yang curam, sifat makhluk tersebut sudah terlihat bahkan sebelum ceritanya diceritakan.
Manusia mencari tempat aman.
Chaofeng mencari ujung paling berbahaya dari bangunan, lalu duduk di sana menghadap angin.
Referensi
Li Dongyang (李東陽), Huailutang Ji (懷麓堂集), Volume 72 – Ji Long Sheng Jiu Zi (記龍生九子). Sumber Dinasti Ming yang memasukkan Chaofeng sebagai anak ketiga naga dan menggambarkannya sebagai makhluk yang menyukai bahaya serta dikaitkan dengan sudut bangunan istana.
https://zh.wikisource.org/zh-hans/懷麓堂集_(四庫全書本)/卷072
Chinese Text Project, Chinese classical text database, basis referensi untuk penelusuran teks dan istilah dalam literatur Tiongkok klasik.
https://ctext.org/
The Palace Museum, Beijing, koleksi dan informasi arsitektur Forbidden City, termasuk bangunan istana, struktur atap dan kebudayaan arsitektur kekaisaran Tiongkok.
https://www.dpm.org.cn/
UNESCO World Heritage Centre, Imperial Palaces of the Ming and Qing Dynasties in Beijing and Shenyang, referensi sejarah dan arsitektur kompleks istana kekaisaran Ming–Qing.
https://whc.unesco.org/en/list/439/
Nanjing Audit University, School of Literature, pembahasan Long Sheng Jiu Zi, termasuk perbedaan daftar Sembilan Anak Naga dalam catatan Li Dongyang dan Yang Shen.
https://wxy.nau.edu.cn/_t1245/2015/0319/c744a5482/page.psp
Wikimedia Commons, Chinese roof ornaments, dokumentasi visual berbagai ornamen makhluk pada bubungan dan sudut atap arsitektur tradisional Tiongkok.
https://commons.wikimedia.org/wiki/Category:Chinese_roof_ornaments



