Pu Lao Anak Naga dalam Mitologi Tiongkok: Makhluk Legendaris yang Takut Paus dan Menyukai Suara Keras

pu lao

innatonoyan – Di sebuah kuil tua di Tiongkok, suara lonceng besar menggema hingga ke halaman dan jalan-jalan di sekitarnya. Dentangannya terdengar berat, panjang, dan seolah membawa pesan dari masa lalu. Bagi pengunjung, lonceng itu mungkin hanya bagian dari bangunan bersejarah. Namun, jika memperhatikan bagian atasnya, terkadang terdapat ukiran makhluk menyerupai naga yang mencengkeram badan lonceng dengan tubuh melengkung.

Makhluk tersebut dikenal sebagai Pu Lao, atau Pulao (蒲牢), salah satu sosok dalam legenda sembilan anak naga Tiongkok.

Berbeda dari Yazi yang dikenal ganas dan menyukai pertarungan, Pu Lao memiliki karakter yang cukup unik. Ia terkenal karena suaranya yang keras, tetapi dalam cerita tradisional justru digambarkan sangat takut kepada paus.

Ketika melihat paus, Pu Lao konon akan berteriak sekuat tenaga. Dari kisah inilah berkembang penjelasan tradisional mengenai penggunaan bentuk Pu Lao pada lonceng besar dan hubungan simbolis antara pemukul lonceng dengan paus.

Cerita tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Tiongkok kuno menghubungkan makhluk mitologis dengan benda-benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pu Lao bukan hanya tokoh dalam dongeng. Namanya juga menjadi bagian dari sejarah seni, arsitektur, dan tradisi pembuatan lonceng di Tiongkok.

Lantas, siapa sebenarnya Pu Lao? Mengapa ia begitu takut kepada paus? Dan bagaimana kisah makhluk kecil yang suka berteriak ini bisa melekat pada lonceng-lonceng besar selama berabad-abad?

Siapa Pu Lao dalam Mitologi Tiongkok?

The decor element is the handle of a bell in the form of a dragon. Big Bell Temple. Beijing, China
瑞兽呈祥:藏在文物里的“龙九子”|新知 - 经济观察网 - 专业财经新闻网站

蒲牢(中國古代神獸):歷史起源,外貌形態,史書記載,後世影響,_中文百科全書

8

Pu Lao atau 蒲牢, yang dalam bahasa Mandarin dibaca Púláo, merupakan makhluk legendaris yang dikenal sebagai salah satu dari sembilan anak naga atau Long Sheng Jiu Zi (龙生九子).

Dalam tradisi tersebut, naga dipercaya memiliki sembilan keturunan yang masing-masing mempunyai sifat dan kegemaran berbeda.

Ada anak naga yang menyukai musik, ada yang gemar bertarung, dan ada pula yang tertarik pada tempat berbahaya. Pu Lao mempunyai keunikan tersendiri karena dikaitkan dengan suara keras dan kebiasaan berteriak.

Karakter tersebut membuatnya berhubungan erat dengan lonceng tradisional Tiongkok.

Dalam sejumlah catatan klasik, Pu Lao digambarkan sebagai makhluk yang hidup di dekat laut dan mengeluarkan suara sangat keras ketika ketakutan.

Hubungan antara Pu Lao dan lonceng menjadi salah satu contoh menarik tentang bagaimana legenda digunakan untuk menjelaskan bentuk ornamen pada benda budaya.

Mengapa Pu Lao Disebut Anak Naga?

Istilah sembilan anak naga berasal dari ungkapan Tiongkok long sheng jiu zi, yang secara harfiah berarti naga melahirkan sembilan anak.

Namun, konsep tersebut tidak selalu menggambarkan keluarga naga dengan silsilah yang jelas.

Dalam tradisi Tiongkok, angka sembilan memiliki hubungan dengan kebesaran, kelengkapan, dan kekuasaan. Karena itu, kelompok sembilan anak naga dapat dipahami sebagai pengelompokan simbolis berbagai makhluk yang memiliki karakter khusus.

Menariknya, daftar sembilan anak naga tidak selalu sama antara satu sumber dengan sumber lainnya.

Sebagian catatan menempatkan Pu Lao pada urutan tertentu, sedangkan sumber lain memiliki susunan berbeda.

Hal yang relatif konsisten adalah hubungan Pu Lao dengan suara keras dan lonceng.

Asal-Usul Legenda Pu Lao dalam Sejarah Tiongkok

Kisah Pu Lao tidak muncul begitu saja dari satu cerita tunggal. Legenda ini berkembang melalui perpaduan folklor, literatur klasik, dan tradisi pembuatan benda ritual.

Dalam kebudayaan Tiongkok, lonceng telah digunakan sejak zaman kuno sebagai alat musik, simbol kekuasaan, dan perlengkapan upacara.

Lonceng perunggu bahkan telah dikenal jauh sebelum legenda sembilan anak naga terdokumentasi secara jelas.

Seiring berkembangnya seni dekoratif, berbagai bentuk hewan dan makhluk mitologis digunakan sebagai ornamen lonceng.

Pu Lao kemudian menjadi salah satu sosok yang paling erat dikaitkan dengan bagian atas lonceng.

Kisah Pu Lao dalam Catatan Klasik

Salah satu sumber yang sering dikaitkan dengan asal-usul Pu Lao adalah Wen Xuan (文选), kumpulan karya sastra yang disusun pada abad keenam.

Dalam tradisi komentar terhadap teks tersebut, terdapat penjelasan mengenai Pu Lao yang takut kepada paus dan akan mengeluarkan suara keras ketika diserang.

Cerita ini kemudian digunakan untuk menjelaskan mengapa bentuk Pu Lao ditempatkan pada lonceng dan mengapa pemukul lonceng dikaitkan dengan bentuk paus.

Pada masa Dinasti Ming, Li Dongyang juga menyebut Pu Lao dalam pembahasan mengenai sembilan anak naga melalui karyanya Huailutang Ji (怀麓堂集).

Ia menjelaskan hubungan Pu Lao dengan kebiasaan bersuara keras dan penggunaan bentuknya pada lonceng.

Catatan-catatan tersebut menunjukkan bahwa legenda Pu Lao tidak hanya berkembang sebagai cerita rakyat, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi literatur Tiongkok.

Apakah Pu Lao Sudah Dikenal Sebelum Dinasti Ming?

Hubungan Pu Lao dengan lonceng memiliki jejak literatur yang lebih tua daripada daftar sembilan anak naga pada masa Dinasti Ming.

Namun, perlu dibedakan antara sejarah nama Pu Lao, sejarah ornamen berbentuk naga pada lonceng, dan pembentukan legenda sembilan anak naga sebagai satu kelompok.

Lonceng dengan hiasan makhluk mitologis telah digunakan selama berabad-abad, tetapi tidak setiap ukiran naga pada lonceng kuno dapat langsung disebut Pu Lao.

Identifikasi tersebut membutuhkan bukti berupa catatan sejarah, prasasti, atau keterangan yang berkaitan dengan benda bersangkutan.

Legenda Pu Lao yang Takut kepada Paus

龙生九子之蒲牢,好音好吼,洪钟上的龙形兽
蒲牢(中國古代神獸):歷史起源,外貌形態,史書記載,後世影響,_中文百科全書

1分钟科普,洪钟兽纽便是龙九子蒲牢_中国

5

Bagian paling terkenal dari kisah Pu Lao adalah hubungannya dengan paus.

Dalam cerita tradisional, Pu Lao digambarkan sebagai makhluk yang tinggal di kawasan pesisir atau dekat laut.

Meskipun termasuk keturunan naga, ia justru sangat takut kepada paus, yang dalam bahasa Tiongkok dikenal sebagai jing (鲸).

Ketika paus mendekat atau menyerangnya, Pu Lao akan mengeluarkan teriakan yang sangat keras.

Suara tersebut digambarkan mampu terdengar jauh, sehingga karakter Pu Lao kemudian dihubungkan dengan lonceng yang menghasilkan dentangan nyaring.

Mengapa Pu Lao Takut kepada Paus?

Cerita klasik tidak selalu memberikan penjelasan terperinci mengenai alasan Pu Lao takut kepada paus.

Dalam sebagian penuturan, paus digambarkan sebagai musuh alami yang membuat Pu Lao panik.

Hubungan ini lebih tepat dipahami sebagai bagian dari imajinasi folklor daripada gambaran perilaku hewan nyata.

Menariknya, cerita tersebut menggunakan rasa takut sebagai sumber suara yang luar biasa.

Pu Lao bukan berteriak karena ingin menunjukkan kekuatan, melainkan karena menghadapi sesuatu yang dianggap mengancam.

Sifat inilah yang membuatnya berbeda dari anak naga lain yang dikenal agresif atau pemberani.

Bagaimana Ketakutan Pu Lao Menjadi Inspirasi Lonceng?

Menurut penjelasan tradisional, bentuk Pu Lao ditempatkan pada bagian atas lonceng agar suara yang dihasilkan menjadi keras dan menggema.

Pemukul lonceng kemudian dikaitkan dengan paus, makhluk yang paling ditakuti Pu Lao.

Secara simbolis, ketika pemukul menghantam lonceng, peristiwa tersebut menyerupai paus yang menyerang Pu Lao.

Makhluk itu seolah berteriak, dan teriakannya diwujudkan melalui dentangan lonceng.

Cerita ini merupakan penjelasan mitologis mengenai ornamen dan suara lonceng, bukan prinsip ilmiah tentang bagaimana bunyi dihasilkan.

Dalam kenyataannya, keras dan panjangnya dentangan dipengaruhi oleh bentuk, ukuran, bahan, serta teknik pembuatan lonceng.

Wujud Pu Lao: Naga Kecil dengan Suara yang Menggelegar

The decor element is the handle of a bell in the form of a dragon. Big Bell Temple. Beijing, China
“龙生九子,九子各不同”的典故 * 阿波罗新闻网

CG岩彩•龙生九子系列_廿七不是甘七-站酷ZCOOL

7

Berbeda dari naga Tiongkok yang umumnya digambarkan bertubuh panjang dengan tanduk dan cakar, Pu Lao tidak memiliki satu bentuk visual yang sepenuhnya seragam.

Dalam kesenian tradisional, ia sering ditampilkan sebagai makhluk menyerupai naga dengan tubuh melengkung, kepala menonjol, dan cakar yang mencengkeram bagian atas lonceng.

Pada beberapa ornamen, tubuhnya tampak pendek dan kuat. Ada pula yang memperlihatkan bentuk naga dengan sisik, tanduk, serta ekspresi wajah yang garang.

Bentuk tersebut berkaitan dengan fungsi ornamen pada lonceng. Pu Lao tidak selalu digambarkan sebagai makhluk yang sedang bergerak bebas, melainkan sebagai sosok yang seolah memegang atau menopang lonceng.

Mengapa Tubuh Pu Lao Sering Dibuat Melengkung?

Bagian atas lonceng tradisional membutuhkan struktur yang memungkinkan lonceng digantung.

Dalam bahasa Tiongkok, bagian pegangan atau penggantung lonceng dikenal sebagai zhongniu (钟钮). Ketika dibuat menyerupai Pu Lao, ornamen tersebut dapat disebut pulao niu (蒲牢钮).

Tubuh naga yang melengkung memungkinkan seniman menggabungkan bentuk dekoratif dengan kebutuhan konstruksi.

Namun, tidak semua penggantung berbentuk naga merupakan representasi Pu Lao. Beberapa lonceng memiliki ornamen naga yang mengikuti gaya dan tradisi berbeda.

Karena itu, bentuk visual saja belum tentu cukup untuk menentukan identitas makhluk pada sebuah lonceng kuno.

Hubungan Pu Lao dengan Lonceng Kuil Buddha

A large dated bronze Buddhist temple bell, Qing dynasty (1644-1912). - Bukowskis
Ancient bronze temple bell with carved patterns and wooden striker

不可小看 和尚敲鐘大有玄機(圖) 佛教 | 寺院 |  傳統文化 |銘刻 | 看中國网

9

Dalam tradisi keagamaan Tiongkok, lonceng memiliki peran penting, terutama di lingkungan kuil Buddha.

Lonceng besar digunakan untuk menandai waktu, mengiringi kegiatan ritual, dan memberikan isyarat kepada komunitas keagamaan.

Dentangannya juga dapat menjadi bagian dari suasana perenungan. Suara yang perlahan memudar sering diasosiasikan dengan ketenangan dan kesadaran terhadap perubahan.

Hubungan antara Pu Lao dan lonceng membuat makhluk ini sering dibicarakan dalam konteks seni kuil.

Namun, Pu Lao sendiri bukan tokoh utama dalam ajaran Buddha. Ia berasal dari tradisi makhluk mitologis Tiongkok yang kemudian dapat hadir dalam lingkungan budaya dan keagamaan setempat.

Makna Suara Lonceng dalam Tradisi Spiritual

Suara lonceng memiliki kemampuan menjangkau ruang yang luas tanpa memerlukan kata-kata.

Dalam kehidupan kuil, bunyi tersebut membantu mengatur aktivitas dan mengingatkan para penghuni tentang waktu pelaksanaan kegiatan.

Secara simbolis, dentangan lonceng juga dapat dipahami sebagai ajakan untuk memusatkan perhatian.

Ketika Pu Lao ditempatkan pada bagian atas lonceng, legenda tentang teriakannya memberikan lapisan makna tambahan pada benda tersebut.

Suara yang awalnya digambarkan sebagai ungkapan ketakutan berubah menjadi bagian dari pengalaman budaya yang lebih luas.

Perubahan makna ini memperlihatkan bagaimana cerita rakyat dapat hidup berdampingan dengan praktik keagamaan tanpa harus menjadi bagian dari doktrin utamanya.

Pu Lao dan Sembilan Anak Naga dalam Mitologi Tiongkok

Legenda sembilan anak naga memperlihatkan bahwa keturunan naga tidak selalu mewarisi karakter yang sama.

Dalam salah satu daftar yang dikenal luas, Qiu Niu dikaitkan dengan musik, Yazi dengan pertarungan, Chao Feng dengan tempat tinggi dan berbahaya, sedangkan Pu Lao dengan suara keras.

Suan Ni memiliki hubungan dengan bentuk singa dan tempat duduk, sementara Bi Xi dikenal melalui gambaran makhluk kuat yang menopang prasasti.

Chi Wen sering dikaitkan dengan hiasan atap bangunan, sedangkan Bi An memiliki hubungan simbolis dengan kewibawaan dan hukum.

Nama serta urutan kelompok tersebut berbeda dalam beberapa versi literatur.

Apakah Pu Lao Anak Naga Keempat?

Dalam daftar yang dikaitkan dengan Li Dongyang pada masa Dinasti Ming, Pu Lao sering ditempatkan sebagai anak naga keempat.

Namun, urutan tersebut bukan satu-satunya versi yang dikenal dalam tradisi Tiongkok.

Perbedaan daftar menunjukkan bahwa legenda sembilan anak naga berkembang melalui berbagai sumber.

Hal yang membuat Pu Lao mudah dikenali bukan terutama urutannya, melainkan kegemarannya bersuara keras dan keterkaitannya dengan lonceng.

Karakter tersebut menjadikannya salah satu anggota kelompok sembilan anak naga yang mempunyai hubungan paling jelas dengan benda budaya tertentu.

Perbedaan Pu Lao dengan Yazi dan Qiu Niu

Pu Lao, Yazi, dan Qiu Niu merupakan contoh menarik mengenai perbedaan karakter di antara anak-anak naga.

Yazi dikenal karena sifat agresif dan kegemarannya bertarung. Sosoknya sering dihubungkan dengan pedang serta senjata tajam.

Qiu Niu justru memiliki hubungan dengan musik dan kesenian. Dalam tradisi, bentuknya dikaitkan dengan hiasan alat musik berdawai.

Pu Lao berada di antara keduanya dalam hal hubungan dengan bunyi, tetapi karakter suaranya berbeda.

Pu Lao Menyukai Suara Keras, Qiu Niu Menyukai Musik

Qiu Niu melambangkan ketertarikan terhadap musik, sedangkan Pu Lao dikaitkan dengan suara nyaring yang muncul ketika merasa terancam.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Tiongkok tradisional membedakan suara sebagai seni dan suara sebagai ekspresi kekuatan atau emosi.

Sementara Qiu Niu berhubungan dengan keindahan musikal, Pu Lao lebih dekat dengan gema dan dentangan yang mampu terdengar jauh.

Keduanya menunjukkan bagaimana legenda dapat memberikan identitas simbolis kepada benda yang menghasilkan bunyi.

Makna Filosofis Pu Lao dalam Kebudayaan Tiongkok

Cerita Pu Lao memiliki sisi menarik karena menggambarkan makhluk keturunan naga yang ternyata mempunyai ketakutan.

Dalam banyak legenda, naga dianggap sebagai simbol kekuatan besar. Namun, Pu Lao justru menunjukkan bahwa makhluk yang berhubungan dengan naga tidak selalu digambarkan tanpa kelemahan.

Ketika menghadapi paus, ia mengeluarkan suara yang sangat keras.

Secara filosofis, kisah ini dapat dibaca sebagai gambaran tentang bagaimana ketakutan menghasilkan respons yang kuat.

Namun, penafsiran tersebut merupakan pembacaan modern terhadap legenda, bukan ajaran moral yang secara eksplisit dinyatakan dalam seluruh sumber klasik.

Suara sebagai Lambang Kehadiran dan Kewibawaan

Lonceng besar memiliki kemampuan mengumpulkan perhatian banyak orang melalui satu dentangan.

Di lingkungan kuil maupun bangunan tradisional, suara lonceng dapat menandai suatu peristiwa penting.

Karena itu, hubungan Pu Lao dengan lonceng memungkinkan munculnya penafsiran mengenai kewibawaan dan kekuatan suara.

Makhluk yang dalam cerita awalnya berteriak karena takut kemudian menjadi bagian dari benda yang digunakan untuk menyampaikan tanda kepada masyarakat.

Transformasi simbolis ini memperlihatkan kekayaan imajinasi dalam kebudayaan Tiongkok.

Ketakutan Tidak Selalu Berarti Kelemahan

Salah satu cara menarik membaca legenda Pu Lao adalah melalui hubungan antara rasa takut dan kemampuan menghasilkan suara luar biasa.

Pu Lao tidak dikenal sebagai makhluk yang menyerang paus. Ia justru merespons ancaman dengan teriakan.

Dalam interpretasi modern, kisah tersebut dapat menjadi pengingat bahwa respons terhadap ketakutan tidak selalu berbentuk perlawanan fisik.

Ada kalanya sesuatu yang dianggap sebagai kelemahan justru menjadi karakter paling khas dari seseorang atau makhluk dalam sebuah cerita.

Itulah yang membuat Pu Lao berbeda dari sosok mitologis yang hanya dikenal melalui kekuatan tempurnya.

Apakah Pu Lao Benar-Benar Dipercaya Membuat Lonceng Lebih Nyaring?

Dalam penjelasan tradisional, bentuk Pu Lao digunakan pada lonceng karena sifatnya yang gemar mengeluarkan suara keras.

Namun, hubungan tersebut merupakan bagian dari cerita mitologis.

Dari sudut pandang fisika, suara lonceng berasal dari getaran badan logam ketika dipukul.

Bentuk lonceng, komposisi logam, ketebalan dinding, serta posisi pukulan memengaruhi karakter bunyi yang dihasilkan.

Ornamen Pu Lao tidak dengan sendirinya membuat lonceng menghasilkan suara lebih keras.

Peran Pengrajin dalam Membentuk Suara Lonceng

Pembuatan lonceng perunggu tradisional membutuhkan keterampilan tinggi.

Pengrajin harus mempertimbangkan bentuk cetakan, ukuran, komposisi logam, dan ketebalan bagian tertentu agar lonceng menghasilkan suara yang diinginkan.

Selain itu, ornamen yang ditempatkan pada lonceng harus disesuaikan dengan struktur keseluruhannya.

Kehadiran Pu Lao memperlihatkan bagaimana fungsi teknis dan nilai artistik dapat dipadukan dalam satu benda.

Dengan demikian, lonceng tidak hanya menjadi alat penghasil suara, tetapi juga karya seni yang membawa cerita dan simbol budaya.

Pu Lao dalam Seni Tradisional dan Budaya Modern

Chinese Bronze Dragon Bell with Striker and Stand
Guide to Traditional Chinese Crafts and Decorative Arts

“龙生九子,九子各不同”的典故 * 阿波罗新闻网

9

Warisan Pu Lao paling mudah dikenali melalui ornamen lonceng tradisional.

Makhluk ini menjadi contoh bagaimana sebuah legenda dapat mempertahankan identitasnya melalui bentuk seni yang digunakan selama berabad-abad.

Dalam pembahasan mitologi modern, Pu Lao juga menarik karena memiliki karakter yang berbeda dari naga-naga perkasa pada umumnya.

Ia bukan terutama penguasa lautan, pembawa hujan, ataupun petarung yang haus kemenangan.

Keunikannya justru terletak pada suara keras dan ketakutannya terhadap paus.

Mengapa Pu Lao Menarik untuk Cerita Fantasi?

Dari sudut pandang kreatif, Pu Lao menawarkan karakter yang tidak biasa.

Ia memiliki hubungan dengan naga, tetapi kekuatan simbolisnya terletak pada suara, bukan api atau kemampuan bertarung.

Karakter seperti ini dapat dikembangkan dalam cerita fantasi sebagai makhluk yang berkomunikasi melalui gema atau memiliki hubungan dengan lonceng kuno.

Namun, kemampuan semacam itu merupakan pengembangan imajinatif modern, bukan bagian yang secara otomatis tercantum dalam sumber klasik.

Pembedaan tersebut penting agar cerita tradisional tetap dapat dikenali meskipun mendapatkan interpretasi baru.

Jejak Pu Lao yang Terus Bergema dalam Tradisi Tiongkok

Pu Lao mungkin tidak memiliki kisah peperangan besar seperti beberapa tokoh mitologi lainnya. Namun, hubungan eratnya dengan lonceng membuat sosok ini memiliki tempat tersendiri dalam sejarah kebudayaan Tiongkok.

Kisahnya menunjukkan bahwa mitologi tidak selalu berkembang melalui cerita kepahlawanan atau pertarungan melawan monster.

Terkadang, sebuah legenda justru bertahan karena mampu menjelaskan benda yang akrab dengan kehidupan manusia.

Melalui cerita tentang makhluk yang takut kepada paus, masyarakat Tiongkok menghubungkan suara keras dengan bentuk naga pada lonceng.

Hubungan tersebut kemudian menjadi bagian dari tradisi seni dan ornamen yang diwariskan lintas generasi.

Pu Lao juga memperlihatkan sisi berbeda dari simbol naga. Keturunan makhluk yang dikenal kuat ternyata dapat memiliki rasa takut, dan ketakutan tersebut justru menjadi ciri paling dikenang.

Ketika lonceng besar berdentang di sebuah kuil tua, suara itu tidak hanya mengingatkan pada keterampilan para pengrajin masa lalu. Bagi mereka yang mengenal legendanya, dentangan tersebut juga membawa ingatan tentang Pu Lao, anak naga yang suaranya dipercaya begitu keras ketika berhadapan dengan paus.

Referensi

Li Dongyang. Huailutang Ji (怀麓堂集). Kumpulan tulisan dari masa Dinasti Ming yang memuat penjelasan mengenai sembilan anak naga, termasuk hubungan Pu Lao dengan lonceng. https://zh.wikisource.org/wiki/懷麓堂集

Xiao Tong (Penyusun). Wen Xuan (文選). Antologi sastra klasik Tiongkok. Tradisi komentar terhadap karya ini menjadi salah satu rujukan awal cerita Pu Lao dan paus. https://zh.wikisource.org/wiki/文選

Encyclopaedia Britannica. Dragon – Mythological Creature. Penjelasan mengenai naga dalam tradisi berbagai kebudayaan, termasuk Tiongkok. https://www.britannica.com/topic/dragon-mythological-creature

Encyclopaedia Britannica. Bell – Musical Instrument. Pembahasan sejarah, bentuk, dan prinsip bunyi lonceng sebagai alat musik serta benda ritual. https://www.britannica.com/art/bell-musical-instrument

Chinese Text Project. Chinese Classical Literature Database. Basis data literatur Tiongkok klasik untuk penelusuran istilah 蒲牢 dan sumber-sumber sejarah terkait. https://ctext.org/

National Palace Museum, Taipei. Collections. Koleksi dan kajian artefak Tiongkok, termasuk benda perunggu serta seni dekoratif tradisional. https://www.npm.gov.tw/

More Articles & Posts